KELOMPOK 1 : Chapter 1 Memperkenalkan Televisi
Televisi
berperan penting bagi perkembangan bangsa Indonesia. Sekarang, hampir setiap
rumah memilliki televisi. Televisi dapat mempengaruhi, mengedukasi, dan
menghibur masyarakat luas. Bahkan, televisi dapat merubah persepsi atau pandangan
masyarakat. Philip Kitley berpendapat bahwa televisi di Indonesia dapat
dipahami sebagai bagian dari Indonesia “proyek budaya nasional” pada masa orde
baru setelah kudeta pada tahun 1996.
Media
televisi memiliki tiga peranan utama. Peranan tersebut adalah :
1. Media televisi berperan sebagai tainment/hiburan.
2. Media televisi berperan sebagai penyebar informasi/
penerangan.
3.
Media televisi berperan sebagai media pendidikan.
Dalam
dunia pertelevisian, Indonesia merupakan negara yang tidak kalah maju dengan
negara lainnya, khususnya di Asia Tenggara. Siaran televisi pertama kali di
ditayangkan tanggal 17 Agustus 1962 yaitu pada peringatan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia yang ke XVII. Yang hanya berlangsung mulai pukul 07.30
sampai pukul 11.02 WIB untuk meliput upacara peringatan hari Proklamasi di
Istana Negara. Namun yang menjadi tonggak berdirinya Televisi Republik
Indonesia (TVRI) adalah ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke IV
di Stadion Utama Senayan. Dan setelah itu, TVRI mampu menjangkau wilayah
nusantara hingga pelosok dengan menggunakan satelit komunikasi ruang angkasa
kemudian berperan sebagai media informasi pemerintah kepada rakyat. Bahkan
hingga sampai sebelum tahun 1990an, TVRI menjadi single source information bagi
masyarakat dan tidak dipungkiri bahwa kemudian timbul upaya media ini dijadikan
sebagai media propaganda kekuasaan.
Pada
tahun 1989 pemerintah mulai membuka kran ijin untuk didirikannya televisi
swasta. Dan pada tanggal 24 Agustus 1989 Rajawali Citra Televisi atau RCTI
mulai siaran untuk pertama kalinya. Kemudian disusul berurutan oleh Surya Citra
Televisi (SCTV) pada tahun 1990 dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada
tahun 1991. Kemudian pada tahun 1994 berdiri ANTV dan Indosiar.
Dan
di era reformasi sekarang ini pemerintah membuka kebijakan untuk membuka
selebar-lebarnya kebebasan pers. Hal ini menimbulkan suasana baru di bidang
jurnalistik cetak maupun elektronik tidak terkecuali media televisi. Hal yang
paling mencolok adalah menjamurnya stasiun-stasiun televisi lokal yang
didirikan dibeberapa daerah.
Pada
abad ke- 20 televisi menjadi sebuah fenomena global yang ada di dunia, Asia
bersaing dengan Australia bukan dalam hal ekonomi atau komersial tetapi dalam
hal intelektual, isu-isu politik dan budaya.
Buku ini membahas televise di Indonesia sebagai kontribusi pemahaman budaya dan
politik di Indonesia dilihat dari sudut pandang Australia. Penonton Indonesia dan Australia menonton program yang
sama yaitu penonton Indonesia telah menyaksikan serial-serial Australia seperti, “kembali ke Eden” yang di tayangkan
di Indonesia tahun 1986 sedangkan film tersebut telah di tayangkan di Australia
pada tahun 1983, “A Country Practice” (Australia 1981; Indonesia 1988), “The
Flying Doctor” ( Australia 1986; Indonesia 1992), dll. Sejak tahun 1993,
Australian Broadcasting Corporation di Australia Televisi (ATV) menggunakan
satelit Palapa untuk menyiarkan konten Australia untuk pemirsa di Indonesia,
Filipina, Brunei, Singapura, Malaysia dan Thailand.
Televisi
sebagai media pendidikan, pelayanan, dan hiburan langsung dapat menyentuh ke
dalam kehidupan masyarakat sampai pada institusi terkecil, yaitu keluarga. Oleh
sebab itu di perlukan program acara televisi yang berkualitas untuk masyarakat.
Permasalahan yang timbul dewasa ini adalah maraknya program televise yang
mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Hal tersebut ternyata menjadi
persoalan sendiri yang akhirnya berdampak menurunnya kualitas program acara
televisi.
Secara
langsung maupun tidak langsung televisi pasti memberikan pengaruh besar
terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Massa dalam hal ini adalah masyarakat
merupakan pihak yang berperan sebagai komunikan sedangkan para insan
pertelevisian berperan sebagai komunikator yang memberikan pesan berupa informasi,
hiburan, edukasi maupun pesan pesan lainnya. Sejauh ini kita tangkap dari
komunikasi massa televisi, televisi lebih dominan dalam situasi komunikasinya.
Televisi cenderung persuasif dengan segala program tayangan yang makin
bervariatif.
KELOMPOK 1 :
1. Ahmad Fahmi Nur Wahid
2. Ahmad Santoso
3. Uuli Kufita Imtikhana
4. Fera Ardhianti Fadhilah
5. Ana Iswatun Hasanah
6. Lutfi Tria Maharani
Komentar
Posting Komentar